Tania mengawali tulisan pertamanya ini dengan mereview sebuah film lama di akhir tahun 90-an yang baru selesai ditontonnya kemarin. Fight Club.
Fight Club diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Chuck Palahniuk. Tania belum pernah membaca novelnya sebelumnya. Tapi karena film ini begitu tersohor, (banyak majalah menobatkannya sebagai salah satu film paling berpengaruh, terutama di tahun 90-an) Tania jadi tertarik untuk menontonnya.
Setelah tertidur beberapa kali di beberapa scene-scene awal (how come? Lo tidur pas nonton Fight Club?!) Tania mulai dapat menikmati alur cerita dari film ini.
Disutradarai oleh David Fincher, film ini berpusat pada dua tokoh utama, narator tanpa nama (Edward Norton) dan Tyler Durden (Brat Pitt), serta kisah cinta yang bertanda tanya dengan Marla Singer (Helena Bonham Carter). Fight Club menyuguhkan Tania (dan kita) penceritaan penuh kesinisan atas kemapanan, yang coba dijatuhkan dengan melegitimasikan kekerasan.
Instead of dua karakter utama ditokohan dengan sangat patriarki di tengah cerita yang memang sangat patriarki, justru Marla Singer lah yang mencuri perhatian Tania. Seorang tokoh wanita yang memiliki keberadaan penting dalam cerita namun tidak pernah menyadari pentingnya dia, bahkan hingga akhir cerita. Si musuh utama tokoh utama di awal cerita, dan berbalik 180 derajat di akhir cerita.
Marla ditampilkan sebagai bukan perempuan pada umumnya (rambut pendek acak-acakan, gaya berbusana yang awut-awutan, perokok, pemakai heroin, dan maniak seks). Namun dibalik setiap ke-unkonvensional-lannya, Marla juga perempuan biasa: bingung dan terus bertanya-tanya akan kelabilan dan ketidakjelasan sikap si pria, hingga akhirnya menyerah dan pergi namun kemudian kembali lagi, seperti stigma untuk beberapa perempuan yang “semakin ditahik-tahikin semakin cinta”.
Pada akhirnya banyak nilai yang coba diangkat oleh Figh Club, fasisme, budaya konsumerisme, bahkan hingga warna kulit (mayoritas cast berkulit putih, sedangkan film ini anti kemapanan di Amerika, yang biasanya lebih dekat dengan golongan kulit hitam), dll. Sayang, Tania tidak terlalu dapat membahasnya, simply karena ia tidak terlalu mengerti.
Namun terlepas dari nilai-nilai itu, sebagai penonton awam, Tania menyukai film ini. Awal yang absurd dengan twist ending yang tidak bisa ditebak dan visual effect yang cukup WAW di zamannya. Tania menyesal ia baru menonton Fight Club sekarang, 11 tahun setelah film itu diproduksi.
Best Quote: "...Condom is the glass slipper of our generation. You slip one on when you meet a stranger. You dance all night... then you throw it away. The condom, I mean, not the stranger. " - Marla Singer
Nb: mengapa film ini yang pertama di review Tania? (spoiler) karena film ini mengangkat cerita tentang alter ego dan obsesi, simply seperti diri Tania.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar